DURI (Detikperjuangan.id) – Penampilan Tortor Sipitu Cawan yang dipadukan dengan Tunggal Panaluan oleh tim Persatuan Masyarakat Batak Duri Sejahtera (PMBDS) berhasil memukau penonton pada malam puncak pergelaran Budaya Serumpun yang digelar Generasi Muda Satu Atap di halaman Gedung LAMR Kecamatan Mandau, Sabtu (7/11/2026) malam.
Dalam even tersebut, PMBDS di bawah kepemimpinan Ketua Umum Santun Sihombing bersama jajaran pengurus turut hadir menyaksikan sekaligus memberikan dukungan terhadap penampilan seni budaya Batak yang mendapat sambutan hangat dari para pengunjung.
Ketua Umum PMBDS, Santun Sihombing, mengatakan bahwa penampilan Tortor Sipitu Cawan merupakan bentuk partisipasi masyarakat Batak dalam pergelaran Budaya Serumpun yang melibatkan lima etnis Batak, yakni Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, dan Angkola
Menurutnya, keikutsertaan tersebut menjadi bukti bahwa budaya Batak tetap eksis dan terpelihara meskipun berada di tanah perantauan, sebagaimana budaya suku-suku lainnya yang hidup berdampingan di Bumi Lancang Kuning.
"Penampilan Tortor Sipitu Cawan merupakan partisipasi Batak dengan lima etnis dalam acara Budaya Serumpun. Hal ini menjadi pertanda bahwa budaya Batak tetap eksis walaupun berada di tanah rantau. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi edukasi bagi generasi muda Batak agar tetap melestarikan budayanya di mana pun berada," ujar Santun di sela-sela kegiatan.
Dalam pertunjukan tersebut, Tortor Sipitu Cawan juga dipadukan dengan Tunggal Panaluan, yakni tongkat pusaka sakral khas Batak Toba yang memiliki ukiran figur manusia dan hewan bertumpuk. Benda pusaka tersebut menyimpan sejarah serta nilai-nilai mitologi yang mendalam dalam tradisi masyarakat Batak Toba.
Santun menjelaskan, Tortor Sipitu Cawan secara harfiah berarti tari tujuh cawan. Tarian tradisional ini bukan sekadar menampilkan keindahan gerakan, tetapi juga mengandung pesan moral dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Tujuh cawan yang dibawa dalam tarian tersebut melambangkan nilai-nilai luhur kehidupan, di antaranya kesucian hati, kebijaksanaan, kekuatan, kebersamaan, serta pentingnya menjaga adat dan budaya.
Sementara itu, air yang terdapat di dalam cawan dimaknai sebagai simbol penyucian. Makna tersebut menjadi pengingat agar setiap manusia senantiasa menjaga kebersihan hati, pikiran, dan perbuatan dalam menjalani kehidupan.
"Melalui Tortor Sipitu Cawan, kita diajak untuk memahami bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan kehidupan. Budaya mengajarkan kita untuk menghargai leluhur, menjaga persaudaraan, menjunjung nilai-nilai kebaikan, serta meneruskan warisan budaya kepada generasi yang akan datang," ungkapnya.
Ia berharap, melalui penampilan tersebut, nilai-nilai luhur budaya Batak dapat terus hidup, dikenal luas, dan diwariskan kepada generasi penerus.
Pergelaran Budaya Serumpun ini sekaligus menjadi ruang bagi berbagai etnis untuk menampilkan kekayaan tradisi masing-masing, mempererat persaudaraan, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam keberagaman di Kecamatan Mandau.
" Terima kasih kepada seluruh Tim PMBDS yang sudah bertukus lumus dalam persiapan kegiatan ini.Semangat dan partisipasi serta motivasi yang begitu tinggi akan menjadikan PMBDS semakin berbakti di tengah masyarakat,", Pungkasnya
Dalam acara tersebut juga hadir pengurus DPC PMBDS Tanah Putih , GM PMBDS Kulim dan Kopelapit sambil menikmati hidangan bersama di stand PMBDS yang disediakan. (***)






Posting Komentar