Loading...

Bangkit dari Pandemi dan Banjir, Penenun Srikandi Serumpun Kembali Berkarya Berkat Dukungan PHR




Caption : _Pengrajin tenun di Kelurahan Limbungan,Kecamatan Rumbai Timur,Pekanbaru. kembali bangkit dan produktif. Tak sekedar melestarikan budaya, namun juga siap mendukung perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat._(PHR) 



PEKANBARU ( Detikperjuangan.id) – Harapan yang sempat hanyut akibat pandemi Covid-19 dan bencana banjir kini kembali dirajut oleh para pengrajin tenun di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Pekanbaru. Berkat dukungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pemberdayaan UMKM, Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang kembali bangkit dan produktif, sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya Melayu.


Ketua sekaligus penggerak kelompok, Salma Betty (50), mengenang masa sulit ketika pandemi pada 2020 menghentikan aktivitas para penenun. Cobaan semakin berat saat banjir melanda Rumbai pada tahun berikutnya, merusak alat tenun, benang, dan berbagai perlengkapan produksi sehingga aktivitas menenun terhenti.


Meski demikian, semangat para pengrajin tidak pernah padam. Melalui program pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan Crafting, PHR mengajak kembali para penenun yang sempat vakum untuk berkarya. Dukungan diberikan dalam bentuk penyelamatan alat tenun yang masih layak pakai, penyediaan bahan baku, perbaikan fasilitas produksi, hingga pendampingan secara berkelanjutan.


"Dukungan tersebut menjadi angin segar bagi kami untuk kembali berkarya dan menghidupkan potensi lokal yang sempat nyaris tenggelam," ujar Salma Betty.


Saat ini, Kelompok Tenun Srikandi Serumpun memiliki 15 anggota aktif yang terus meningkatkan kemampuan melalui pelatihan rutin. Sejak Juni 2026, pelatihan dilaksanakan dua kali dalam sepekan. Hingga kini telah terlaksana tujuh sesi dari target sepuluh pertemuan, dengan seluruh anggota menunjukkan antusiasme tinggi mengikuti setiap kegiatan.


Menurut Salma, menenun tidak hanya menjadi upaya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perempuan di lingkungan mereka

"Menenun menjadi ruang bagi kami para ibu untuk terus berkarya dan lebih produktif. Setiap kain yang dihasilkan membawa harapan besar karena selain menjadi kebanggaan, juga membuka peluang untuk meningkatkan perekonomian kami," katanya.


Melalui pendampingan yang dilakukan, kelompok penenun kini telah memiliki standar produksi dengan target setiap alat tenun mampu menghasilkan hingga 15 lembar kain berkualitas yang tetap mempertahankan identitas budaya Melayu.


Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan kebangkitan kelompok tenun tersebut memberikan dampak positif, tidak hanya bagi peningkatan kesejahteraan keluarga, tetapi juga bagi pelestarian budaya lokal.


"Kebangkitan aktivitas tenun di Limbungan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di tengah arus modern," ujar Iwan.


PHR berkomitmen mendukung penguatan identitas budaya daerah melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi tersebut membuktikan bahwa alat tenun yang sempat terdiam kini kembali bergerak, menciptakan ruang produktif bagi para perempuan sekaligus memastikan warisan budaya Melayu tetap hidup dan berkembang di tangan generasi masa kini.(***) 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama