ROKAN HILIR ( Detikperjuangan ) — Di tengah tantangan tingginya biaya produksi dan fluktuasi harga jual ikan, secercah harapan tumbuh dari kolam-kolam budidaya lele di Sei Manasib, Rokan Hilir. Adalah Muhammad Rizky (31), Sekretaris BUMDes sekaligus penggerak Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Lele Sei Manasib, yang berhasil membawa perubahan besar melalui inovasi pakan mandiri hingga mampu mendongkrak omzet kelompok mencapai puluhan juta rupiah.
Bagi Rizky, perjalanan membangun usaha budidaya lele bukanlah cerita yang mudah. Selama bertahun-tahun, para pembudidaya di Sei Manasib harus menghadapi tingginya harga pakan yang terus melambung, sementara harga jual ikan kerap dimainkan tengkulak. Kondisi itu membuat margin keuntungan kelompok semakin tipis dan usaha budidaya terasa berjalan tanpa kepastian.
“Antara biaya operasional yang terus membengkak dan margin keuntungan yang makin tipis, kami sempat berada di titik lelah. Bukan hanya lelah secara fisik karena merawat ikan setiap hari, tetapi juga lelah secara mental karena merasa kerja keras kami belum memberikan hasil yang pasti,” ungkap Rizky, Rabu (20/05/2026).
Berangkat dari keresahan tersebut, Rizky mulai mencari jalan keluar agar kelompok budidaya lele di Sei Manasib mampu berdiri lebih mandiri dan tidak terus bergantung pada tingginya harga pakan pabrikan.
Harapan baru muncul melalui Program Perikanan Riau yang dijalankan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Program pemberdayaan tersebut tidak hanya menghadirkan bantuan fasilitas, tetapi juga membuka akses pembelajaran dan pendampingan bagi kelompok pembudidaya.
Bersama anggota kelompok lainnya, Rizky kemudian melakukan studi belajar ke Desa Bangko Jaya untuk mempelajari sistem produksi pakan mandiri yang telah berhasil diterapkan kelompok binaan lainnya. Dari sana, ia mulai melihat peluang besar memanfaatkan ikan rucah — hasil tangkapan sampingan nelayan yang sebelumnya sering dianggap limbah — sebagai bahan baku alternatif pakan lele.
Namun proses menuju keberhasilan tidak berjalan mulus. Pada tahap awal percobaan, formulasi pakan yang dibuat justru gagal total. Pelet yang diproduksi mudah hancur dan berubah menjadi serbuk saat ditebar ke kolam sehingga memengaruhi kualitas air.
“Mesin vertikal itu membutuhkan tingkat presisi tinggi. Saya sempat salah dalam pengaturan putaran pisau sehingga pelet tidak bisa memadat sempurna,” kenang Rizky.
Kegagalan demi kegagalan tidak membuatnya menyerah. Rizky terus melakukan eksperimen, mulai dari mengatur tingkat kelembaban adonan hingga melakukan kalibrasi mesin berulang kali. Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil ketika kelompok berhasil menghasilkan pelet mandiri yang padat, berkualitas, dan layak digunakan.
Keberhasilan memproduksi pakan mandiri menjadi titik balik bagi Pokdakan Lele Sei Manasib. Biaya operasional budidaya berhasil ditekan secara signifikan tanpa mengurangi kualitas nutrisi pakan.
Tak berhenti pada inovasi produksi, Rizky juga mulai mengembangkan strategi pemasaran yang lebih modern. Pengetahuan tata niaga yang dipelajarinya diterapkan untuk membuka jalur distribusi langsung ke Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi) sebagai bagian dari dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis.
Hasilnya cukup menggembirakan. Dalam satu siklus produksi, kelompok budidaya ini mampu menghasilkan sekitar 2,3 ton lele, dengan 519 kilogram di antaranya terserap langsung untuk kebutuhan penyediaan pangan bergizi. Dalam tiga bulan terakhir, kelompok tersebut berhasil membukukan omzet hingga Rp32 juta.
Keberhasilan tersebut perlahan mengubah cara pandang para pembudidaya terhadap usaha mereka. Jika sebelumnya diliputi rasa khawatir dan ketidakpastian, kini mereka tumbuh menjadi kelompok usaha masyarakat yang lebih percaya diri, produktif, dan mandiri.
Manager CID Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan keberhasilan Pokdakan Lele Sei Manasib menjadi bukti bahwa program pemberdayaan berbasis potensi lokal mampu menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“PHR berkomitmen untuk terus menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun penguatan kapasitas kelompok usaha lokal. Kami percaya, kemandirian masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya dukungan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terhadap operasional industri hulu migas sebagai bagian dari menjaga ketahanan energi nasional.
Kini, bagi Rizky, kolam lele bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah. Di balik air kolam yang tenang, tumbuh keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan.
“Air di kolam boleh saja menyusut saat kemarau panjang, tetapi tekad kami untuk mandiri tidak akan pernah ikut mengering. Dari keterbatasan, kami belajar bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau terus berusaha dan tidak menyerah,” pungkasnya.(***)




Posting Komentar